Dorong Perkembangan Sanitasi Melalui Lomba TTG STBM

“Luar biasa”

ungkapan tersebut rasanya tepat untuk menggambarkan antusias para finalis dalam lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) STBM. Bahkan, karena semua finalis sangat bersemangat waktu pendaftarannya harus diperpanjang. Sebab, sekitar lima puluhan lebih peserta meminta diberi kesempatan dapat me-review proposal yang mereka kirimkan, sehingga bisa memenuhi syarat diikutkan dalam seleksi finalis untuk masuk ke tahap lanjutan implementasi lapangan.

Animo terhadap lomba TTG STBM, memang sangat luar biasa. Betapa tidak, dari rentang waktu pendaftaran yang hanya dua bulan (September – Oktober 2014) panitia bisa menerima 171 proposal, dari total pendaftar di web sanitasitotal.com sebanyak 218 orang.

Jumlah proposal sebanyak itu,  tentunya membuat panitia terkejut. Karena panitia tidak menyangka lomba yang sebelumnya hanya digagas hanya untuk memenuhi tututan dan kebutuhan warga di 6 RW lokasi implementasi STBM High Five yang ada di Medan, Makassar dan Surabaya, kemudian menjadi acara nasional, dengan kepanitian yang diperluas bersama Pundi Amal SCTV, Word Vision Indonesia (WVI), IUWASH, dan dukungan dari Pokja AMPL BAPPENAS dan Sekretariat STBM Kementerian Kesehatan.

Walhasil lomba ini pun akhirnya diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kota diantaranya Bali, Banten, Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, NTT, Sulsel, dan Sulteng. Di mana, para peserta tersebut berasal dari berbagai kalangan masyarakat mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga karyawan dan PNS.

[mk_layerslider id=”1″]

Keberhasilan lomba TTG STBM ini tentunya berkat peran aktif semua pihak dalam mendukung kegiatan ini, mulai dari peran mitra, pemerintah pusat melalui Pokja AMPL Nasional tentunya membuat gaung lomba ini jadi semakin besar.

Bahkan, dengan keterlibatan Pundi Amal SCTV acara ini jadi diliput oleh banyak media, salah satunya seperti liputan6.com, radio Gamasi Makassar dan Green radio. Selain itu, dukungan juga datang dari barisan tenaga profesional, LSM, akademisi dan kampus seperti Atmajaya, IATPI, HAKLI,  BIC, serta pihak swasta layaknya PT. BNI.

Lomba TTG STBM membuka perspektif tentang samudera biru pemasaran sanitasi yang terhampar luas. Kemitraan dengan banyak pihak, memberikan pengalaman kepada panitia bagaimana menyelami dunia ‘samudera biru’ sanitasi, sehingga pemasaran (wirausaha sanitasi) yang sering dikonotasikan sebatas pembangunan jamban untuk isu di pilar 1 STBM (STOP BABS) bisa dikatakan bukanlah satu-satunya ceruk pemasaran sanitasi.

Kehadiran INOTEK, sebuah lembaga yang memberikan dampingan inkubasi bisnis juga membuka jalan untuk pengembangan teknologi yang diusulkan di dalam lomba untuk dikembangkan menjadi model inkubasi bisnis baru bidang sanitasi.

Dengan antusiasme yang cukup menggembirakan ini banyak pihak yang mengharapkan bahwa acara ini dapat diselenggarakan secara periodik, setidaknya 2 tahun sekali. Dalam hal ini para mitra juga telah menyatakan kesediaannya untuk mendukung lomba TTG STBM di tahun berikutnya. Maka dari itu, kami berharap bahwa kegiatan ini kedepannya dapat diteruskan oleh berbagai pihak terkait. Tujuannya tentu saja untuk mendorong perbaikan kondisi sanitasi di Indonesia.

Recommended Posts